Renungan di Kaki Lima

Cerita tadi malam di Januari 2017.

Sore hari itu saya jalan-jalan dengan pacar saya, nonton ke bioskop. Saya pusing waktu itu, tidak demam, mungkin darah rendah. Akhirnya setelah mengantar pacar saya pulang, saya memutuskan untuk makan ayam goreng di tempat langganan saya.

Sampailah saya ke tukang ayam goreng kaki lima, sekitaran Gegerkalong, Bandung. Saat itu jam 7 malam dan terakhir makan jam 12 siang, jadi kebetulan memang lapar pisan. Jadi saat itu saya pesan nasi uduk, ayam goreng, tahu dan tempe. beberapa saat kemudian saya memperhatikan orang di sebrang meja makan soto, sehingga saya juga tambah pesan soto babat. ‘Nyamm, enak bgt, pasti cepat sembuh’ saya pikir.

Kemudian semua makanan datang, dan saya makan dengan menu super komplit. Baru habis setengah, duduklah seorang bapak-bapak di sebelah kiri saya. perawakannya kurus, baju kedodoran dan celana panjang kain. Bapak ini (mari kita sebut Bapak X) kemudian berbicara dengan pemilik warung kaki 5 (mari kita sebut Bapak 5). Mereka mengobrol dalam Bahasa Jawa, sehingga saya ga mengerti seluruhnya.

Bapak X : mas pesan ini, itu dan itu.

Bapak 5 : itu aja? siap.

Lalu kemudian mereka mengobrol entah apa

Bapak 5 : ini rokok, silakan

Bapak X : ah tidak, terima kasih.

Bapak 5 : ga apa, santai aja

Bapak X : terima kasih banyak mas, terima kasih. (sambil aga menunduk-nunduk dan banyak terima kasih)

Kemudian Bapak 5 memasak sehingga mereka tidak lagi mengobrol. Saya sedang makan, namun dari sudut mata saya bisa melihat dan merasakan Bapak X memperhatikan saya lagi makan.

Bapak 5 : ini mas, sudah jadi. Nasi uduk, tahu dan tempe.

Bapak X : jadi berapa mas?

Bapak 5 : tujuh ribu aja

Bapak X : makasih banyak mas, makasih banyak (lagi-lagi menunduk-nunduk)

Bapak 5 : iya sama-sama mas.

 

Entah kenapa saya merasa tidak enak hati sejak itu dan cepat-cepat menyelesaikan makan saya.

Saya : sudah mas, berapa?

Bapak 5 : dua puluh satu ribu mas.

 

Selama di jalan menuju rumah saya baru menyadari sesuatu. Saya sangat yakin Bapak X tadi sedang kurang beruntung, beliau hanya sanggup makan nasi, tahu dan tempe, memperhatikan saya yang makan dengan begitu lengkapnya, dan sekali saya makan saat itu senilai dengan makan beliau selama satu hari.

Mungkin banyak yang merasa ‘ah gitu doang’, tapi apa yang saya rasakan disitu, raut wajah Bapak 5, cara berbicara Bapak X, cara Bapak X memperhatikan saya, dll. sangat luar biasa saat itu. Tidak bisa saya gambarkan.

Yaampun betapa banyak rejeki yang saya sia-siakan. Rejeki yang saya gunakan untuk hal yang berlebihan, untuk membeli sesuatu yang tidak saya perlukan, yang rejeki tersebut bisa digunakan untuk hal lain yang lebih penting, atau untuk orang lain yang lebih membutuhkan.

Advertisements

Author: pikirandom

Just a normal person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s