wacana ‘full-day school’

Ga perlu menyikapi kebijakan full-day school dengan manja.

Sekolah SMP saya aja (di Bandung, swasta, 2003-2006), memang setiap hari masuk jam 7 pulang 14:15. Udahnya les privat sampe jam 5. Cuma sabtu yang sampe jam 11:30 dan udahnya ga ada les. Dan ga ada masalah.

Yang penting adalah, kita benar2 bisa mendidik, menjaga dan memastikan bahwa anak2 seharian melakukan hal yang positif. ‘Normal-day school’ lalu anak-anak keluyuran dan tawuran selagi orangtua bekerja, gimana? ‘Full-day school’ tapi sampai sore anak2 sudah beres belajar, olahraga, mengaji dan sampai rumah tinggal istirahat dan berinteraksi dengan keluarga, bukankah lebih baik?

Banyak pro dan kontra, sisi positif dan negatif. Karakter dan sifat anak2 pun berbeda-beda. Orangtua sebaiknya menjadi orang paling bijak yang menentukan apakah anaknya membutuhkan ‘full-day school’ atau tidak.

Coba baca2 ttg sistem full-day school ataupun sekolah asrama di Jepang.

(image source: http://www.pmiiugm.org/wp-content/uploads/2015/06/dsc_0064.jpg)

Advertisements

Author: pikirandom

Just a normal person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s